Customer Kesayangan

Mama saya adalah customer yang gampang disayang oleh sales man/sales woman. Agen asuransi kami, seorang ibu yang sudah mengurus asuransi kami sejak saya masih SD, diajaknya ke dapur lalu ditawarinya makan siang karena mama saya baru saja selesai memasak.
Saya ingat, berkali-kali ibu agen asuransi itu bercerita pada saya betapa mama saya adalah perempuan yang sangat mencintai anak-anaknya. Perempuan hebat. Perempuan yang berpikir tentang masa depan anak-anaknya, termasuk mempersiapkan bekal untuk kami bertiga jika sewaktu-waktu sesuatu terjadi. Saya tahu benar, mama bekerja keras untuk membayar premi asuransi itu. Jumlah uang pertanggungan yang akan kami terima mungkin tidak seberapa, tapi perjuangan langit berbintang saya itu sangatlah luar biasa.
Tukang tagih cicilan motor saya juga paling senang kalau tiba waktunya datang ke rumah untuk mengambil uang. Kebetulan, tempat tinggal mas-mas tukang tagih cicilan motor ini dekat dengan rumah kontrakan kami sekarang. Tiap dia datang, mama saya senang menawarkan kue ataupun kolak buatannya.
Biasanya, sambil agen asuransi atau tukang tagih cicilan motor itu makan, mengalirlah cerita-cerita hidup mereka kepada mama saya. Tentang harga-harga yang semakin mahal. Tentang anak tukang tagih cicilan motor yang baru saja masuk rumah sakit. Tentang anak agen asuransi yang akan masuk sekolah lanjutan tahun ini. Itu adalah jenis cerita yang sangat sehari-hari dan membumi.
Bukan, mama saya bukannya disayang oleh mereka karena pembayaran asuransi atau cicilan motor yang selalu tepat waktu. Kadang mama saya juga telat melakukan pembayaran. Saya rasa, beliau disayang karena beliau tulus dalam memberi perlakuan pada setiap orang, termasuk tulus mendengar keluhan orang lain. Pun begitu, beliau tetaplah orang yang tak pernah suka ikut campur pada urusan pribadi orang lain.

You Might Also Like

Leave a Reply