{"id":1648,"date":"2012-12-25T14:37:21","date_gmt":"2012-12-25T07:37:21","guid":{"rendered":"http:\/\/jalansunyi.id\/?p=1648"},"modified":"2023-06-25T21:22:17","modified_gmt":"2023-06-25T14:22:17","slug":"dongeng-enam-senar","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jalansunyi.id\/?p=1648","title":{"rendered":"Dongeng Enam Senar"},"content":{"rendered":"<p>Jam setengah tujuh malam tanggal 14 Desember 2012, Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) mulai ramai menjelang konser gitar &#8220;Dongeng Enam Senar&#8221; Jubing Kristianto. Ini adalah konser penutup rangkaian pagelaran Festival Musik Gedung Kesenian Jakarta 2012.<\/p>\n<p>Penonton konser terus berdatangan walau titik air sesekali masih turun dari langit. Usia mereka beragam, mulai dari orang yang sudah lanjut usia hingga anak-anak. Ini memang konser untuk keluarga.<\/p>\n<p>Sorenya saat saya sampai di sana, hujan belum benar-benar berhenti. Seperti biasanya, jalanan lebih macet setelah hujan, dan ojek menjadi transportasi utama yang menjadi pilihan. Butuh waktu sekitar setengah jam dari kantor ke GKJ, itu pun harus pakai acara meliuk-liuk di antara kepungan mobil, bus, bajaj, dan motor lainnya. Tukang ojek langganan saya memang juara.<\/p>\n<p>Dengan segala upaya penonton yang tetap menghadiri konser walau hujan dan macet melanda, wajar jika di awal konsernya Jubing mengucapkan terimakasih kepada mereka. Sempat terucap juga kekhawatirannya bahwa GKJ akan kosong karena penonton batal datang. Nyatanya malam itu GKJ penuh penonton hingga ke balkon.<\/p>\n<p>***<br \/>\n<a href=\"http:\/\/jalansunyi.id\/wp-content\/uploads\/2012\/12\/18182_10151204543839385_1736780047_n.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-1661\" title=\"18182_10151204543839385_1736780047_n\" src=\"http:\/\/jalansunyi.id\/wp-content\/uploads\/2012\/12\/18182_10151204543839385_1736780047_n.jpg\" alt=\"\" width=\"400\" height=\"600\" \/><\/a><\/p>\n<p>Panggung konser malam itu ditata sederhana. Hanya ada kursi, mikrofon, dan tempat untuk meletakkan partitur. Setelah sedikit pembukaan di awal, Jubing memainkan Ayam Den Lapeh sebagai lagu pertama. Menurut cerita Jubing, lagu ini pertama kali dimainkan di muka umum pada tahun 1982 saat Jubing masuk final festival gitar Yamaha.<\/p>\n<p>Saat selesai memainkan lagu kedua, <a href=\"https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=bGGKeCaGxsw\">Morning Rain<\/a>, Jubing bercerita bahwa lagu ini adalah sketsa perasaannya ketika melihat hujan di pagi hari. Buat saya, dimainkannya lagu kesayangan saya ini adalah sebuah kejutan. Apalagi tak ada Morning Rain dalam daftar lagu yang dibagikan menjelang konser. Ternyata saya tertipu. Morning Rain dimainkan dengan apik, lebih pendek, dan aransemennya sedikit berbeda daripada biasanya. Itulah lagu indah yang membuat beberapa butir bening mengalir pelan saat teringat bahwa saya butuh berbulan-bulan untuk ikut les gitar, dan butuh beberapa bulan tambahan untuk mengeja partitur serta belajar memainkan Morning Rain.<\/p>\n<p>Masih tentang hujan, tak lupa Jubing memainkan Hujan Fantasy yang terinspirasi dari lagu Hujan karya Ibu Sud. Kata Jubing, lagu itu diciptakan Ibu Sud saat mendengar bunyi &#8220;tik..tik..tik..&#8221; ketika hujan turun yang kemudian menjadi pembuka lagu. Hujan memang bisa membuat pikiran mengembara kemana-mana. Seperti kata Jubing, &#8220;Tiap orang bisa punya kembara yang berbeda-beda meskipun itu hujan yang sama.&#8221;\u009d<\/p>\n<p>Ada sekitar 20 lagu dimainkan malam itu. Tak hanya memainkan lagu karyanya sendiri, Jubing memainkan pula lagu-lagu gitar klasik seperti Asturias dan Greensleeves serta lagu-lagu yang dipopulerkan oleh orang lain misalnya Mission Impossible, Sinaran, dan Bimbi. Semuanya indah. Lagu Song For Renny diciptakan Jubing untuk istrinya, Renny Yaniar, sedangkan Fatman Blues didedikasikan untuk Jaya Suprana. Khusus untuk lagu-lagu gitar klasik, Jubing sengaja memilih lagu yang enak di telinga supaya penonton tertarik belajar memainkan gitar.<\/p>\n<p>Kolaborasi Jubing dengan bintang tamu lainnya juga padu. Reda Gauidamo dengan suara beningnya membuat lagu <a href=\"https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=h4mSyLsoagw\">Sisa Bintang<\/a> dan <a href=\"https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=yCzXg6DfQGA\">Burung Layang-Layang<\/a> terdengar ngelangut, sedangkan Imada mencerahkan suasana dengan bermain gitar sambil bernyanyi dan sesekali diselingi stand up comedy. Ada pula Didiet yang permainan biolanya terdengat menyayat ketika memainkan lagu Broken Vow yang dipopulerkan oleh Josh Groban. Mereka berempat menutup konser dengan lagu Nonton Bioskop milik Benyamin Suaeb yang dimainkan dengan indah dan diselingi gelak tawa penonton.<\/p>\n<p>Saya mengenang konser malam itu sebagai konser yang hangat. Suasana begitu cair, seperti bertemu kawan lama. Setiap pergantian lagu, Jubing asyik berinteraksi dengan penonton sambil sesekali memindahkan letak mikrofon atau menarik kursi. Tak ada upaya menjaga jarak atau membangun citra. Senyum Jubing dan tawa penonton mengalir apa adanya.<\/p>\n<p>***<br \/>\nSejak dulu saya selalu terpesona pada gitar, terutama pada mereka yang pandai memainkannya. Kenapa terpesona? Karena saya merasakan sendiri bahwa bermain gitar supaya menghasilkan nada yang indah tidaklah mudah. Perlu latihan keras, kesabaran ekstra, dan cinta.<\/p>\n<p>Cinta pula yang terasa dalam udara malam itu. Cinta sang gitaris yang terwujud dalam karya, dan cinta penonton yang rela menerjang hujan dan macet demi melihat penampilan gitaris kesayangan.<\/p>\n<p>Dongeng Enam Senar telah ditunaikan dan akan bertahan di ingatan.<\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/jalansunyi.id\/wp-content\/uploads\/2012\/12\/577900_10151204343884385_2005529079_n.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-1650\" title=\"577900_10151204343884385_2005529079_n\" src=\"http:\/\/jalansunyi.id\/wp-content\/uploads\/2012\/12\/577900_10151204343884385_2005529079_n.jpg\" alt=\"\" width=\"500\" height=\"299\" \/><\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jam setengah tujuh malam tanggal 14 Desember 2012, Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) mulai ramai menjelang konser gitar &#8220;Dongeng Enam Senar&#8221; Jubing Kristianto. Ini&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1654,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":""},"categories":[44],"tags":[48],"class_list":["post-1648","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-musik","tag-morning-rain"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/jalansunyi.id\/wp-content\/uploads\/2012\/12\/32430_10151208085209385_312701305_n.jpg","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jalansunyi.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1648","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jalansunyi.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jalansunyi.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jalansunyi.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jalansunyi.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=1648"}],"version-history":[{"count":18,"href":"https:\/\/jalansunyi.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1648\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":6882,"href":"https:\/\/jalansunyi.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1648\/revisions\/6882"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jalansunyi.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/1654"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jalansunyi.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=1648"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jalansunyi.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=1648"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jalansunyi.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=1648"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}