{"id":5626,"date":"2018-05-13T09:18:00","date_gmt":"2018-05-13T02:18:00","guid":{"rendered":"https:\/\/jalansunyi.id\/?p=5626"},"modified":"2021-12-25T09:21:10","modified_gmt":"2021-12-25T02:21:10","slug":"belajar-dari-budi-darma-dan-seno-gumira-ajidarma","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jalansunyi.id\/?p=5626","title":{"rendered":"Belajar dari Budi Darma dan Seno Gumira Ajidarma"},"content":{"rendered":"\n<p>11 Februari 2018, Galeri Indonesia Kaya di Grand Indonesia.<\/p>\n\n\n\n<p>Karya sastra yang baik adalah karya sastra yang&nbsp;<em>sustain<\/em>, terus menerus bergema. (Budi Darma)<\/p>\n\n\n\n<p>Seorang pengarang tidak pernah puas dengan karyanya. Dia akan terus menulis karena ada keresahan atau pertanyaan-pertanyaan dalam hati. Menulis adalah cara untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita. (Budi Darma)<\/p>\n\n\n\n<p>Ada tiga mitos sastra yang harus dihancurkan (Seno Gumira Ajidarma) :<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\"><li>Sastra itu curhat<\/li><li>Bahasa sastra mendayu-dayu, misalnya \u201cangin menggelepar\u201d atau \u201csepi terbanting\u201d <\/li><li>Isinya tentang pedoman hidup, menggurui, penuh nasehat atau petuah, atau berambisi menunjukkan cara hidup yang baik dan benar.<\/li><\/ol>\n\n\n\n<p>Karya-karya anak muda sering membuat juri jadi minder karena tidak klise, tidak berlarat-larat, dan banyak unsur pengetahuan. (Seno Gumira Ajidarma)<\/p>\n\n\n\n<p>Manusia bisa mengembangkan diri lebih cepat dan lebih matang jika membaca sastra. Membaca karya sastra yang baik adalah untuk mematangkan diri kita. Jika terbiasa membaca karya sastra yang baik, maka dalam berhubungan dengan orang lain akan bermanfaat karena bisa tahu sifat orang lain (Budi Darma).<\/p>\n\n\n\n<p>Tiga hal terbesar dalam diri manusia (Budi Darma) :<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\"><li>Invention, misalnya Graham Bell membuat telepon<\/li><li>Discovery, misalnya Columbus menemukan Amerika<\/li><li>Kreativitas. Romeo dan Juliet sebenarnya tidak murni karya Shakespeare sendiri tetapi terinspirasi cerita rakyat Verona. Kemampuan seorang penulis saat mengolahnya membuatnya jadi personal dan tidak bisa digantikan oleh orang lain (mungkin maksudnya jika ada orang lain yang juga terinspirasi cerita rakyat yang sama maka belum tentu bisa menulis seperti Shakespeare)<\/li><\/ol>\n\n\n\n<p>Menulis ada miripnya dengan penyakit. Embrio tulisan bisa saja tahun 1961, tapi baru bisa keluar nertahun-tahun kemudian. Makin lama masa inkubasinya maka karya makin matang. (Budi Darma)<\/p>\n\n\n\n<p>Alasan terus menulis :<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\"><li>Ada ketidakadilan, penindasan, tapi orang-orang diam saja, padahal tahu. Ini menimbulkan kegelisahan. (Seno Gumira Ajidarma)<\/li><li>Penulis selalu gelisah karena selalu mengikuti perkembangan jaman, membaca koran, dan berdiskusi, sehingga punya pertanyaan-pertanyaan dalam hati. Pasti ada lentik-lentik dalam diri kita sebagai reaksi atas apa yang kita lihat dan kita baca. (Budi Darma)<\/li><\/ol>\n\n\n\n<p>Apakah menulis itu sulit? Tergantung. Pada umumnya jika banyak membaca dan mengamati kehidupan sehari-hari maka bisa mengatasi hambatan dalam menulis. (Budi Darma).<\/p>\n\n\n\n<p>Catatan tambahan : mengamati kehidupan sehari-hari (dengan detail) sangat penting. Itulah yang dilakukan Budi Darma saat menulis Orang-Orang Bloomington.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>11 Februari 2018, Galeri Indonesia Kaya di Grand Indonesia. Karya sastra yang baik adalah karya sastra yang&nbsp;sustain, terus menerus bergema. (Budi Darma) Seorang&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":5627,"comment_status":"open","ping_status":"","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":""},"categories":[42],"tags":[],"class_list":["post-5626","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-belajar-bahasa"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/jalansunyi.id\/wp-content\/uploads\/2021\/12\/Seno-Gumira-dan-Budi-Darma.jpeg","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jalansunyi.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5626","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jalansunyi.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jalansunyi.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jalansunyi.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jalansunyi.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=5626"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jalansunyi.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5626\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":5628,"href":"https:\/\/jalansunyi.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5626\/revisions\/5628"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jalansunyi.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/5627"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jalansunyi.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=5626"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jalansunyi.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=5626"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jalansunyi.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=5626"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}