Jokpin

Jokpin makin keren saja. Sepertinya Twitter membuatnya makin rajin menunaikan ibadah puisi. Maka berbahagialah mereka, termasuk saya, yang menunggu puisinya.

“@jokopinurbo: Siapa yang lebih gila dari hujan yang gila? Kita, yang merasa damai dalam derainya.”

“@jokopinurbo: Kamu adalah jalan menuju sembunyi, sembuh dari sunyi.”

“@jokopinurbo: November lumer dalam hujan senja. Ingin duduk berhadapan dan saling memandang saja. Dengan siapa? Dengan jendela.”

“@jokopinurbo: Pada matanya aku melihat kerlap-kerlip cahaya lampu kota kecil, seperti bisikan hati yang lembut memanggil.”

“@jokopinurbo: Suara jarum jam di dinding semakin lantang. Kepalamu penuh deadline, hatimu penuh kekosongan.”

“@jokopinurbo: Matamu terbuat dari senja yang dilapisi hujan. Matahari ada, tapi tak kelihatan.”

“@jokopinurbo: Sebagaimana kebahagiaan, kesedihan juga memerlukan tempat sunyi untuk menjernihkan diri.”

“@jokopinurbo: Yogya itu seluas hatimu. Miskin pun terasa kaya di sini.”

“@jokopinurbo: Di balik hijabnya yang anggun kecantikan sedang bergulat dengan kenangan.”

“@jokopinurbo: Tentu kamu tak bisa pulang jika hatimu masih terkunci dan lampunya belum dinyalakan.”

“@jokopinurbo: Seorang musafir singgah minum di kedai saya. Sebelum menghirup secangkir kopi ia berkata, “Urip iki mung mampir kangen.””

“@jokopinurbo: Kalau kecewa dengan diri sendiri, bercermin saja, nggih. Tak usah menista mbahmu matamu dengkulmu.”

“@jokopinurbo: Lampu hatimu pandai mengatur cahaya. Kadang terang di luar, remang di dalam.”

“@jokopinurbo: Tak ada kesedihan yang sia-sia. Waktu akan mengumpulkan pecahan-pecahannya untuk menyusun kebahagiaanmu, suatu ketika.”

“@jokopinurbo: Matamu yang hangat dan rendah hati adalah suaka bagi cahaya lilin yang akan mati.”

You Might Also Like

Leave a Reply