Sepi dari Tepi
Dua kali. Itulah jumlah kedatangan saya ke pameran foto. Pameran foto yang pertama kali saya datangi adalah pameran foto di kota kelahiran saya, bertahun-tahun lalu. Saat itu saya menemani seorang sahabat yang memang punya hobi fotografi. Tak banyak yang bisa saya kenang tentang pameran itu, bahkan mengingat nama fotografernya pun saya tak mampu. Saya hanya sanggup mengingat satu foto sapi yang lehernya ditebas pedang dengan kecepatan tinggi. Iya, fotonya bagus, saya tercekat, tapi saya tak nyaman untuk mengingat darah yang muncrat.
Pameran kedua yang saya lihat adalah pameran foto karya Sibylle Bergemann di Bentara Budaya Jakarta. Saya datang ke sana pada Rabu malam, 27 Februari 2013. Tak hanya melihat foto, di sana saya juga berkesempatan mengikuti diskusi tentang karya Sibylle. Mendengarkan diskusi dan belajar hal baru, lebih tepatnya, karena saya sungguh awam dalam hal fotografi.
Dari diskusi itu saya baru tahu bahwa foto-foto Sibylle banyak menggambarkan suasana keseharian di Jerman Timur. Jerman Timur dalam foto Sibylle adalah Jerman yang tak bergairah, bahkan seperti berhenti berdetak. Kata Pak Erik Prasetya, pendekatan Sibylle dalam memotret adalah memilih tepian daripada pusat. Saya mencoba memahami hal ini dari contoh yang diberikan Pak Erik bahwa Sibylle tidak memotret runtuhnya tembok Berlin namun memilih memotret orang-orang di Jerman Timur. Mungkin juga Sibylle memotret tembok Berlin, namun itu bukanlah foto yang dipilihnya untuk muncul di pameran-pamerannya. Pemilihan tepian daripada pusat itu mungkin juga dilandasi sikapnya untuk menghindar dari pusat politik dan tidak memotret politik. Menurut Pak Erik, foto-foto Sibylle tidak melawan rezim yang saat itu berkuasa di Jerman Timur, melainkan hidup di dalamnya tanpa menyetujuinya. Pengungkapan perasaan lewat foto yang puitis atau liris adalah cara yang dipilihnya.
Rasa sepi memang tampil dengan kuat dalam foto-foto Sibylle. Menurut saya, sepi itu tak hanya terasa dalam foto-foto Sibylle tentang Jerman Timur, tapi juga pada foto-foto lain yang diambil di benua Afrika maupun pada foto fashion untuk majalah. Foto-fotonya yang puitis, sunyi, sepi, dan secara bersamaan terasa tulus telah membuat saya terpesona. Saya juga terpikat pada wajah-wajah yang dia potret. Mereka terlihat nyaman di depan kamera. Saya suka ekspresi mereka, dan saya jadi seperti diingatkan bahwa wajah manusia punya ekspresi yang sangat kaya.
Saya memang baru sekali melihat pameran foto Sibylle Bergemann, namun saya menikmati apa yang dia tampilkan. Saya merasa nyaman.

Leave a Reply