Piano
Yang saya taksir sejak dua tahun lalu akhirnya berlabuh juga. Sebuah piano digital merek Yamaha. Selama ini ia konsisten menggoda tiap saya datang ke Gramedia. Seolah tangannya melambai dan melempar kata “Belilah aku…” ke telinga. Akhirnya saya menyerah dan memboyongnya ke sarang saya.
Sebelum memutuskan membeli piano, saya terlebih dulu mencari guru les piano. Keterbatasan anggaran membuat saya makin selektif, di sisi lain saya berharap mendapat kualitas yang eksklusif. Eksklusif di sini berarti guru tersebut mau datang ke rumah saya, mengajar paling tidak satu jam dalam tiap pertemuan, dan punya stok sabar yang berlebihan. Atas bantuan seorang kawan, saya bertemu seorang guru seperti yang saya butuhkan.
Guru les piano saya berusia 23 tahun, dalam satu minggu mengajar 28 siswa beragam usia, dan tidak suka lagu-lagu Coldplay. Kalau saya tak salah, murid termudanya berumur 5 tahun dan siswa tertuanya berusia 63 tahun. Tak hanya itu, dia juga memberikan terapi piano bagi anak-anak autis.
Les pun dimulai pada Oktober minggu pertama. Menjelang les piano perdana, rasanya seperti akan ujian les gitar. Sungguh tak terkira. Les piano edisi pertama diisi dengan perkenalan pada piano dan mendiskusikan apa tujuan saya mengambil les piano. Apakah untuk have fun atau ingin seperti Mozart? Apakah ingin belajar piano klasik atau belajar lagu-lagu pop masa kini? Setelah itu saya belajar memainkan scale C Mayor. Tujuannya adalah melemaskan jari dan melatih koordinasi tangan kanan dan kiri. Tak tanggung-tanggung, guru saya langsung memberi 3 PR untuk pertemuan berikutnya, diiringi pesan “Minimal latihan 30 menit setiap hari ya.”
Dalam pertemuan kedua, saya mulai pusing dengan urusan fingering. Saya mulai bertanya hal-hal semacam “Kenapa not yg ini harus pakai jari telunjuk? Kenapa nggak pakai jari tengah?” Syukurlah guru saya yang masih sangat muda itu mau menjelaskan dengan sabar.
Saya memang perlu banyak latihan supaya bisa memainkan lagu yang saya inginkan. Semoga saya tak menyerah setelah beberapa sesi latihan. Saya jadi ingat kata-kata guru saya, “Tetap semangat ya Mbak.” Ah, tentu saja saya harus tetap semangat berlatih. Malu rasanya jika kalah semangat dibandingkan seseorang yang berusia enam puluh tiga 🙂


Leave a Reply