Tak Terduga

Kebaikan dan perhatian yang datang tak terduga sering membuat saya terpana. Kadang muncul tanya, “Cukup layakkah saya untuk menerimanya?”

***

“Saya masih ingat Mbak lho. Mbak yang saya bukain pintu subuh-subuh itu kan? Yang datang dari Jogja bawa ransel?”

Pak Yayat, salah satu petugas keamanan di kantor saya, lancar mengucap kalimat itu saat tak sengaja kami berjumpa lagi sekitar setahun lalu. Kami tak pernah resmi berkenalan. Saya tahu nama beliau dari nama yang tertera di seragamnya.

Tentu saya ingat kebaikan Pak Yayat. Subuh sekitar lima tahun lalu, saya tiba di depan kantor setelah menempuh perjalanan semalaman. Naik kereta, dari Jogja. Berhubung gerbang kantor masih ditutup, saya menunggu di luar. Dan saat itulah Pak Yayat menyapa saya, bertanya apa keperluan saya, lalu membuka pintu untuk saya. Kebaikan Pak Yayat telah memberi saya kesempatan untuk cuci muka, sikat gigi, ganti baju, dan bersiap-siap sebelum dimulainya tes kerja.

Sejak peristiwa subuh itu, kami tak pernah lagi berjumpa, tapi saya terharu bahwa Pak Yayat masih mengingat saya.

***

Hidup memang tak terduga. Saya boleh bersiap-siap, tapi tak ada jaminan saya tak akan terkejut saat yang tak terduga itu hadir di depan mata.

You Might Also Like

Leave a Reply