Pak Mul

“Pindahipun kok tebih sanget to Mbak?” tanya Pak Mulyono ketika saya mampir beli mie ayam sore ini.

“Kiyatipun tumbas wonten mrika, Pak,” jawab saya. “Mangke menawi kula kangen mie ayamipun Pak Mul, kula dolan mriki,” kata saya lagi.

Pak Mul, dan mie ayamnya, adalah bagian dari kehidupan saya ketika beberapa tahun tinggal di kompleks perumahan ini.

Manusia memang selalu bergerak, tapi ada yang akan selalu bisa dikenang dari setiap pergerakan itu. Pak Mul adalah bagian dari kenangan itu.

– 06.08.2014 –

You Might Also Like

Leave a Reply