Selera Desa
Pagi tadi ada panggilan masuk ke hp dari penjual sayur di dekat rumah, bertanya apakah mau pesan Jangan Lombok buatannya. Tentu saja saya mau, apalagi saya sudah pesan sejak dulu dan menunggu lama. “Kalau bikin Jangan Lombok, kabarin ya Bu. Saya mau,” itu pesan saya dulu kepadanya.
Jangan Lombok yang berisi potongan cabe, kacang panjang, dan tempe yang diguyur kuah bersantan agak pedas membuat saya rindu rumah. Rindu Ibu. Rindu masakan enak dengan bahan sederhana. “Selera desa,” kata adik saya. Kami punya selera yang sama. Kerinduan kami pada makanan-makanan sederhana sering menghiasi obrolan kami via wa. Dan semua obrolan itu membuat kami makin rindu Ibu kami yang begitu piawai mengolah bahan yang murah menjadi makanan enak bagi anak-anaknya. Tak bisa dipungkiri, kondisi ekonomi berdampak besar membentuk selera makan kami.
Saya percaya setiap ibu berupaya memberikan yang terbaik bagi anaknya, termasuk makanan yang layak walau dalam kondisi ekonomi yang terbatas. Jika ingin mengomentari makanan-makanan yang diberikan seorang ibu kepada anaknya, cobalah menahan komentar itu sampai di pikiran atau kerongkongan saja. Tak perlu diucapkan, apalagi jika tiada kontribusi yang diberikan untuk meringankan bebannya.
Leave a Reply