Stasiun dan Kereta

Di stasiun dan di kereta, ada banyak cerita manusia. Yang menarik perhatian saya bukanlah kejadian heboh semacam perdebatan dengan nada tinggi tentang bangku prioritas, tapi justru kejadian-kejadian kecil yang membuat perasaan kadang membuncah, kadang begitu sepi, kadang juga gabungan keduanya.

Di stasiun dan kereta, saya diingatkan bahwa manusia adalah pejuang, tapi juga semeleh menerima kenyataan. Ada kaki yang berlari-lari naik tangga demi mengejar kereta, ada mata yang kosong pada wajah lelah yang menunggu di peron, ada tatapan pasrah saat kereta yang datang ternyata penuh sesak, ada tangan yang kerepotan membawa bekal, tas berisi ASI, atau tentengan lain, ada yang berbincang dengan mata berbinar menatap lawan bicaranya, ada yang membalas WA kepada yang entah di mana, ada yang diam menghayati musik dari headsetnya, ada yang tak segan mendekat kepada calon penumpang lain yang kehujanan di ujung peron yang tak beratap agar orang itu bisa berteduh di bawah payung yang sama, ada pula yang sigap menangkap tubuh yang ambruk di dalam kereta lalu mencarikan tempat duduk dan menyodorkan segala makanan dan minuman yang ada.

Di stasiun dan kereta, daya hidup itu ada, meski sepi juga tak henti menerpa.

You Might Also Like

Leave a Reply