Pameran : Namaku Pram

April 2018, hampir setahun lalu, saya datang ke pameran Namaku Pram di Dia.Lo.Gue. Pameran itu mengaduk-aduk perasaan.

Foto-foto tentang korespondensi antara Pram dan anak-anaknya selama Pram ditahan di Pulau Buru adalah bagian yang tak mudah dilupakan. Begitu pahit, tapi juga begitu tegar.

Sesuai instruksi yang saya baca di pameran, tak semua hal di pameran tersebut boleh dipotret, jadi saya hanya mengambil gambar pada bagian-bagian yang memang ada keterangan boleh difoto.

Dulu saya mengira Pram sudah pintar sejak masih kecil, tapi ternyata saat SD dia sempat tiga kali tidak naik kelas, padahal ayahnya adalah guru di sekolah tersebut. Dia sempat dilarang sekolah, lalu diajar oleh ayahnya selama 1 tahun, kemudian sekolah lagi sampai lulus. Sepertinya masa-masa itu tak mudah, karena di bagian penjelasan di pameran disebutkan bahwa “Hampir setiap pelajaran berakhir dengan tangisan, dan bila telah habis air mata, akan diajak jalan-jalan dan ayahnya akan bercerita kisah pewayangan sampai semua ketegangan habis.”

Ada beberapa kalimat di bagian penjelasan pameran yang sempat saya catat, terutama yang menurut saya maknanya dalam.

Jangan makan keringat orang lain, makanlah keringatmu sendiri. Dan itu dibuktikan dengan kerja.

Masa terbaik dalam hidup seseorang adalah masa ia dapat menggunakan kebebasan yang telah direbutnya sendiri.

You Might Also Like

Leave a Reply