70 Tahun Sapardi Djoko Damono
Ulang tahun Sapardi Djoko Damono, alias SDD, yang ke 70 diperingati pada Jumat, 26 Maret 2010, di Salihara. Tak sekedar peringatan ulang tahun, namun sekaligus perayaan atas karya-karyanya yang lentur seiring perjalanan masa. Tak heran, mereka yang hadir dalam acara tersebut datang dari berbagai usia. Mulai dari Goenawan Mohamad, Niniek L. Karim, Sitok Srengenge, Happy Salma, Jubing Kristianto, sampai ke anak-anak muda yang SDD senang menyebutnya sebagai “anak-anak, atau cucu-cucu saya..”
******
Hampir jam 6 sore saat saya tiba, tinggal mendapat sedikit bagian dari Kuliah Umum tentang Puisi Sapardi Djoko Darmono dengan pembicara Nirwan Dewanto. Selesai kuliah umum, seperti biasanya, SDD diserbu banyak orang. Wartawan yang sibuk bertanya ini itu (“apa ciri khas puisi Bapak? Apa rencana Bapak ke depan?” 😀 ) , fotografer yang sibuk meminta SDD bergaya seolah sedang membaca puisi (“Ya, tangannya diangkat sedikit, Pak..”, “Pak Sapardi, lihat ke sini..”) , sampai para penonton yang berusaha mendekat untuk minta tanda tangan, bersalaman, lalu berkata, “foto bareng ya Pak..” 🙂 SDD, yang sudah eyang-eyang tapi masih rajin berkarya itu, seolah jadi milik semua orang.
Hal itu makin terbukti saat acara baca puisi dan prosa serta musikalisasi puisi SDD akan dimulai pada pukul 19.30 WIB. Antrian panjang terjadi di depan pintu teater Salihara. Ketika penonton sudah masuk ke dalam, terlihat bahwa kursi yang disediakan tak cukup, maka panitia menambah dua karpet panjang untuk tempat penonton duduk lesehan. Tapi, semua itu tak mengurangi kemeriahan perayaan.
Goenawan Mohamad mengawali acara dengan semacam kata sambutan, dilanjutkan dengan SDD yang mengucap terima kasih untuk mereka yang terlibat dalam acara tersebut, sekaligus menyebutkan tentang apa yang masih ingin dicapainya. Secara garis besar, SDD mengatakan ia ingin tetap “bermain-main dengan kata” 🙂
Permainan kata SDD kemudian mulai dibacakan oleh Happy Salma, Niniek L. Karim, dan Sitok Srengenge. Trio ini terasa pas dalam membacakan karya SDD, dan bahkan sering mendapat applaus penonton. Saat Sitok mendapat bagian untuk membacakan karya SDD secara sendirian, salah satu puisi yang dibacakannya adalah puisi Dalam Doaku. Ya ya ya, itu puisi favorit saya. Bait terakhir puisi itu sangat saya suka. 🙂
“Aku mencintaimu.
Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan keselamatanmu.”



Setelah pembacaan puisi dan prosa, tibalah saat yang ditunggu-tunggu. Musikalisasi puisi oleh Nana Tatyana, Jubing Kristianto, dan Umar Muslim ! Berhubung Mbak Nana mengajak penonton untuk ikut bernyanyi jika tahu lagunya, maka saya (bersama penonton lainnya) ikut bernyanyi “Ketika Jari-Jari Bunga Terbuka”, “Dalam Bis”, dan “Nokturno”. Rasanya bahagia 🙂
Acara malam itu diakhiri dengan paduan suara Paragita Universitas Indonesia yang menyanyikan tiga lagu untuk SDD karya Ananda Sukarlan.
Sekedar berbagi pengalaman, jika besok-besok ada acara semacam ini, bawalah uang tunai dalam jumlah agak banyak. Maklum, tak ada mesin ATM di Salihara 😀 Siapa tahu ada kejutan-kejutan yang tak sepantasnya dilewatkan. Misalnya, buku-buku karya SDD yang dijual di meja panitia, termasuk kehadiran dua buku “langka” yang telah diterbitkan ulang. Mata Jendela, dan Hujan Bulan Juni 🙂
Leave a Reply