Wis Maem, Nduk?
Pembicaraan kami lewat telepon selalu diwarnai satu pertanyaan yang sama walau menggunakan tingkat bahasa yang berbeda.
Beliau bertanya “Wis maem, Nduk?“, sedangkan saya bertanya “Mama sampun dhahar?“.
Pertanyaan itu, dan pertanyaan lanjutan “Maem nganggo apa?” mungkin terdengar sepele. Tapi bagi orang yang menanggung kerinduan, pertanyaan semacam itu adalah hujan di tengah kekeringan.
Setiap kali saya menghadapi makanan yang berlimpah dalam berbagai acara, saya selalu bertanya-tanya apakah ibu saya dan orang-orang yang berarti dalam hidup saya sudah makan juga.
Seandainya saya punya Pintu ke Mana Saja, saya ingin mendatangi mereka, menatap mata, lalu bertanya sudah makan atau belum. Tapi yang terpenting, saya ingin bertanya, “Maukah makan bersama saya?“
Leave a Reply