Satu Kursi Harus Diamankan
Dalam hal memenuhi kebutuhan untuk pendidikan, setiap bulan sesungguhnya adalah perjuangan. Juni Juli adalah puncak ketika segala daya dilakukan. Satu kursi harus diamankan.
Bagi orang tua yang mungkin tak kuat mental dengan persaingan masuk sekolah negeri (baca: saya) atau memang sejak awal sudah mantap memilih sekolah swasta karena faktor kecocokan (ini juga saya), perjuangan bisa saja sudah dimulai setahun sebelumnya. Proses perburuan sekolah ini melelahkan tapi juga tak bisa dilakukan asal-asalan, apalagi ketika ada kebutuhan khusus pada anak yang perlu diperhatikan, misalnya speech delay.
Ada kebahagiaan yang dipertaruhkan. Kebahagiaan. Bukan hanya masa depan, tapi juga kebahagiaan sejak sekarang, sejak proses belajar. Tak hanya kebahagiaan anak tapi juga orang tuanya. Saya ingin anak saya bahagia di sekolah, dan saya juga ingin menjadi orang tua yang bahagia memfasilitasi proses belajarnya.
Ketika dulu anak saya akan masuk TK, saya mencoba mengajak anak saya datang ke trial class sebuah sekolah swasta yang menggunakan bahasa Inggris dan kurikulum internasional. Dia menikmati trial class itu dan tak mau pulang. Itu peristiwa yang mengejutkan karena di sekolah sebelumnya dia cenderung diam dan pasif.
Saat dia sedang mengikuti trial class, saya menyimak penjelasan pihak sekolah tentang kurikulum, metode pengajaran, sampai tentang administrasi. Semuanya cocok bagi saya, kecuali biayanya. Lalu saya ingat wajah bahagia anak saya. Rasa gentar saat memandang deretan angka uang masuk sekolahnya perlahan berkurang. Tak sirna begitu saja, tapi ada optimisme bahwa Insha Allah ada jalan, yang penting berusaha.
Kejadian itu terulang saat anak saya akan masuk SD. Saya masih gentar melihat angka, tapi tak mau menyerah begitu saja karena menyadari bahwa anak saya menikmati proses belajarnya. Anak saya jadi lancar bicara. Anak saya berkembang pesat. Anak saya bahagia, dan itu membuat saya bahagia.
Suatu ketika anak saya menulis sebaris kalimat di kartu yang diberikannya untuk saya.
“Thank you for saving me,” itu bunyinya.
Saya bertanya kenapa dia menulis itu, lebih tepatnya kenapa dia memilih kata saving. Lalu dia menjawab kurang lebih begini: bahwa kerja keras saya telah menyelamatkannya sehingga dia bisa terus sekolah.
Saya tercekat, tak menyangka betapa dewasa pemikirannya. Lalu saya ingat ibu saya dengan segala perjuangan untuk menyekolahkan ketiga anaknya. Ibu saya pernah berkata bahwa beliau tak bisa memberikan warisan berupa harta benda, tapi beliau akan berusaha memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anaknya.
Saat ini saya sedang mengikuti contoh ibu saya. Semampu saya.
Untuk pendidikan anak, tak ada lelah orang tua yang sia-sia. Saya percaya.
– 23 Juli 2023 –
Leave a Reply