Kaki Langit : Tiga Dalam Satu

Lebih dinamis. Itu kesan pertama setelah saya selesai mendengar album terbaru Jubing Kristianto, Kaki Langit. Kaki Langit adalah album keempat karya Jubing sesudah album Becak Fantasy, Hujan Fantasy, dan Delman Fantasy. 15 lagu dalam album Kaki Langit makin menunjukkan ciri khas Jubing yang senang mengeksplorasi lagu-lagu tradisional dari berbagai daerah di Indonesia, sambil tetap memainkan beberapa lagu asing maupun lagu Indonesia yang telah banyak dikenal khalayak, sekaligus memunculkan karyanya sendiri. Ijinkan saya menyebutnya sebagai rumus “tiga dalam satu”. Tiga jenis lagu dalam satu album. Album pertama hingga keempat sepertinya setia pada rumus ini.

Rumus lain yang saya tangkap dari album-album Jubing adalah adanya lagu bertema hujan di semua albumnya. Jika di dunia puisi ada Sapardi Djoko Damono yang kerap disebut sebagai Penyair Hujan karena banyak karyanya tentang hujan, maka Jubing bisa juga disebut sebagai Gitaris Hujan. Kalau mau dibuat daftar, inilah lagu tentang hujan di album-album Jubing : Morning Rain dalam album Becak Fantasy, Hujan Fantasy dan Once Upon a Rainy Day dalam album Hujan Fantasy, Clouds dalam album Delman Fantasy, serta Wangi Hujan dalam album Kaki Langit. Terbukti, hujan memang sumber inspirasi.

Mengutip tulisan Jubing di sampul CD, Kaki Langit menggambarkan perjalanan melintasi sebuah jalan raya yang membelah padang luas yang kosong. Ke mana pun kita memandang, hanya kaki langit atau cakrawala yang tampak. Mendengar lagu Kaki Langit membuat saya merasa berada di kendaraan yang sama dengan yang dipakai siapapun ia yang ada dalam gambaran Jubing. Saya membayangkan ada rambut yang tertiup angin dan senyum dari wajah yang malu-malu terkena sinar mentari.

Sebagai judul album, Kaki Langit terasa lebih romantis jika dibandingkan tiga album sebelumnya yang lekat dengan kata Fantasy. Hanya saja, gambar sampul album ini justru mengesankan suasana hutan sehingga membuat saya tidak bisa menangkap apa yang disebutkan Jubing dalam sampul albumnya tentang makna Kaki Langit. Meskipun demikian, album ini punya kelebihan jika dibanding tiga album sebelumnya, terutama bahwa lagu karya Jubing dalam album ini jumlahnya lebih banyak daripada di album-album sebelumnya.

Dari 15 lagu dalam album Kaki Langit, 7 lagu diantaranya adalah ciptaan Jubing yaitu Prelude to the Falling Leaves, Kaki Langit, Fatman Blues, Wangi Hujan, Lament, Sailor’s Jig, dan Kelap-Kelip. Semua lagu tersebut terasa dinamis walaupun iramanya sedang atau tidak terlalu rancak, kecuali pada lagu Lament yang terasa liris karena memang mewakili perasaan Jubing atas sejumlah peristiwa menyedihkan yang terjadi di Indonesia maupun di dunia. Dari ketujuh lagu tersebut, Fatman Blues menjadi favorit saya. Lagu ini dipersembahkan Jubing untuk pianis dan budayawan Jaya Suprana, yang menurut Jubing memang bertubuh gemuk dan suka blues.

Jika selama ini memandang daun-daun gugur, menghirup bau tanah yang terkena tetesan hujan, maupun memandang kunang-kunang cenderung terasa melankolis, maka cobalah rasakan hal yang berbeda saat mendengarkan Prelude to the Falling Leaves, Wangi Hujan, dan Kelap-Kelip. Mungkin dunia jadi tak se-ngelangut yang kita kira.

Lagu-lagu lain yang bisa didapatkan dalam album ini adalah Blackbird (Beatles), Emotions (Bee Gees), We Are the Champions (Queen), Canon (Pachelbel), Rek Ayo Rek (Is Haryanto), Sarinande, Bengawan Solo (Gesang), dan Gembira Berkumpul (AT Mahmud).

Akhirnya, inilah pendapat saya yang mungkin terasa lebih pribadi. Album ini, seperti halnya tiga album sebelumnya, sangat tepat untuk menemani sejumput waktu bagi diri sendiri.

You Might Also Like

Leave a Reply