Kereta Pagi
Dear dunia,
Kereta pagi ini penuh, seperti biasanya. Menampung manusia yang berjejal hendak menuju Jakarta demi sesuap nasi, demi sebuah rumah dengan meja bilyar di dalamnya, atau demi aktualisasi diri. Selama setengah tahun aku naik kereta, banyak peristiwa hadir di depan mata. Ketegasan (atau kegalakan) perempuan nyata terlihat di gerbong satu atau gerbong delapan. Gerbong khusus wanita.
Jika kamu masih merasa lelaki, jangan pernah coba-coba masuk ke dalamnya. Kecuali jika kamu ingin diteriaki, dimaki, atau dipelototi hingga tiba di stasiun tujuan. Pernah suatu ketika seorang Bapak nyaris ketinggalan kereta. Terburu-buru dia masuk ke gerbong wanita tanpa tahu itu bukan tempat yang tepat baginya. Maka teror pun dimulai. Teriakan semacam ‘Banci lo!‘ dan sejenisnya terus bersahutan dari perempuan-perempuan yang tak kusangka ternyata gahar. Kasihan sekali Bapak itu. Jika kereta tak terlalu penuh, mungkin dia bisa berjalan ke gerbong berikutnya. Tapi kondisi kereta yang sesak justru akan makin merugikannya. Dia bisa dituduh cari kesempatan dalam kesempitan.
Kereta pagi ini penuh, seperti biasanya. Sepenuh pikiran dan hati para penumpangnya yang disesaki berjuta mimpi atau bahkan sebuah cita-cita sederhana yang kadang sulit realisasinya.
“Setelah punya rumah, apa cita-citamu? Kecil saja: ingin sampai rumah saat senja supaya saya dan senja sempat minum teh bersama di depan jendela.”
(“Cita-Cita”-Joko Pinurbo)
Leave a Reply