Kotak Demi Kotak Itu….
Kotak demi kotak itu punya daya tarik yang unik. Kadang mudah, kadang sulit, tapi godaannya maut. Ketika ada satu pertanyaan yang membuat dahi berkerut, rasanya tidak rela kalau kotak itu tetap kosong walau sudah 5 menit dihabiskan untuk “berimajinasi”. Kotak demi kotak itu hari minggu lalu jadi topik menarik di Oprah Winfrey. Baru tahu, Bill Clinton pun meluangkan waktu untuk kotak demi kotak itu. Ternyata, kecanduan TTS tak mengenal batas negara ataupun posisi di pemerintahan. Asalkan ada kotak kosong, maka berpikirlah apa jawaban yang tepat untuk diisikan di sana. Kotak demi kotak itu, saya tunggu lewat Kompas hari Minggu. Kadang mudah, kadang nganyelke karena pakai istilah yang aneh-aneh. Padahal, saya tidak punya Kamus Besar Bahasa Indonesia. Mendatar ataupun menurun, sama saja susahnya. Tapi kok tidak bisa berhenti ya? Kotak demi kotak itu….
*
Hidup. Benar juga kalau ada yang menyebut hidup itu seperti TTS. Sudah ada yang mengatur jawabannya. Ya siapa lagi kalau bukan sang pembuat TTS itu.
Hidup. Ketika satu pertanyaan mendatar terjawab, biasanya ada pertanyaan menurun yang “menjebak”. Jawaban terlihat benar, bahkan kotaknya bisa saja pas. Tapi kok tidak cocok dengan jawaban mendatar sebelumnya.
Memang begitu kan adanya hidup? Penuh pertanyaan, kebimbangan akan masa depan. Tapi, memang iya, benar kata Iwan Fals, hadapi saja…
Leave a Reply