Cerita dari Kereta

Prambanan Ekspress

Ada satu kereta yang punya jasa besar dalam hidup banyak orang Solo dan Jogja. Kereta Prambanan Ekspress atau Prameks. Mereka yang menjadi pengguna kereta ini adalah mahasiswa Solo yang kuliah di Jogja (atau sebaliknya), serta orang Solo yang kerja di Jogja (dan sebaliknya). Komuter seperti mereka ini sangat terbantu dengan keberadaan Prameks. Satu jam perjalanan, dan kita sudah sampai di kota tujuan. Tidak ada macet di jalan, tidak ada supir bus yang ugal-ugalan, dan tidak ada pengamen serta pedagang asongan yang akan naik turun. Sepanjang saya bolak balik Solo Jogja, baru sekali saya naik bus dari Solo ke Jogja, dan saya sudah kapok.

Dulu, awal pakai Prameks, saya menyebut kereta ini (dalam hati saja) sebagai keretanya Shinchan. Waktu itu, kereta Prameks bercat biru, lalu bagian atas dari gerbong paling depannya dihiasi dengan dua papan warna merah berbentuk seperti telinga. Seperti dua telinga yang dipasang pada bagian depan bus-nya Shinchan.

Kembali ke Prameks, saya merasakan naik kereta ini mulai sejak harga tiketnya 3000 rupiah. Itu tahun 2001. Ketika harga naik menjadi 5000 rupiah, banyak mahasiswa yang protes, tapi akhirnya adem juga. Mungkin sama-sama paham bahwa PT KAI memang selama ini lebih banyak rugi daripada untung. Sekarang harga tiketnya 7000 rupiah dengan kereta baru bergaya modern berwarna  kuning menyala. Kereta Shinchan saya itu jadi terlihat uzur jika dibandingkan dengan si kuning ini.

Tak hanya berganti warna, Prameks juga menambah layanannya. Ada sebuah troli menjual snack dan minuman yang begerak dari gerbong pertama sampai ke gerbong terakhir. Tentu saja troli itu didorong, tidak bergerak sendiri. Dulu, Mama titip jual kue bolu kukus di troli makanan itu. Harganya jadi melambung tinggi, Mama sampai dibuat mengelus dada karenanya. Bayangkan, harga dari Mama adalah 1000 rupiah, dan mereka menjualnya 2000 rupiah. Untuk orang bertipe sakmadya seperti Mama saya itu, untung yang diambil Prameks terlalu tinggi. Tapi sebenarnya kalau mau diperhatikan lagi, masuk akal juga mengapa mengambil untung 100 persen seperti itu. Troli itu didorong oleh 2 orang per harinya. Gaji mereka diambilkan dari keuntungan penjualan makanan dan minuman di troli tersebut.

Saya ingat benar, ketika saya sedang di Solo dan diminta Mama untuk mengantar bolu kukus untuk troli itu, rasanya seperti ikut lomba lari seratus meter (padahal saya belum pernah ikut lomba itu:p). Begitu saya datang di stasiun Purwosari, saya harus bersiap-siap di tempat dimana gerbong paling depan kira-kira berhenti. Mengapa? Karena troli makanan itu berada di gerbong paling depan. Begitu gerbong berhenti, saya langsung naik, serahkan bolu kukus dan minta tanda tangan petugasnya di atas nota yang sudah disiapkan Mama dari rumah. Selesai, turun, dan kereta akan segera berangkat kembali ke Stasiun Balapan, lanjut Jebres, Palur, lalu balik lagi ke Jebres, Balapan, Purwosari, dan kemudian berangkat lagi ke Jogja. Kereta memang hanya berhenti sebentar di Purwosari untuk menurunkan dan menaikkan penumpang.

Lalu, dimana bagian lari seratus meternya? Begini, kadang, perkiraan saya tentang tempat pemberhentian gerbong paling depan itu meleset. Lumayan jauh pula. Jadilah saya harus berlari-lari mengejar gerbong kereta paling depan sambil membawa keranjang atau tas plastik berisi bolu kukus di kedua tangan saya. Capek plus panik, takut ketinggalan kereta. Apes-apesnya, saya bisa naik ke kereta tapi keretanya langsung jalan. Jadilah saya mesti ikut sampai ke stasiun Palur sana lalu kemudian balik  lagi ke stasiun Purwosari untuk ngambil motor

Kenangan

Di Prameks, ada banyak cerita yang mungkin tidak akan mudah terlupa. Awal kuliah dan sepanjang masa kuliah, pulang ke Solo pada Sabtu sore dan pulang ke Jogja di Senin pagi terasa seperti sebuah reuni SMA. Alumni SMA saya memang banyak yang kuliah di Jogja, dan itu membuat kami menggunakan Prameks sebagai sebuah sarana untuk saling bertukar kabar. Topik pembicaraan pun berganti seiring dengan bertambahnya semester kami. Masa OSPEK, lalu mengurus KRS, masa kuliah, mid semester, ujian akhir, KKN, skripsi, lalu tentu saja, wisuda. Setelah proses wisuda itu, makin sedikit wajah yang saya kenal saat naik Prameks. Saya tahu, mereka sudah mengepakkan sayap dan melanglang buana. Kebanyakan ke Jakarta.

Teman-teman yang menghilang membuat saya mulai menikmati duduk di kereta dalam diam. Menyimpan muka di balik buku tebal.

You Might Also Like

Leave a Reply