Menulis Kota

Catatan saat mengikuti sesi “Menulis Kota” di Jacob Koffie Huis Depok tanggal 12 Mei 2018.

Pembicara : Zen RS.

  • Seno Gumira Ajidarma banyak menulis tentang urban, tentang Jakarta.
  • Misbach Yusa Biran banyak menulis tentang kawasan Senen.
  • Ahmad Wahid menulis tentang Kebon Kacang.
  • Orang-Orang Bloomington karya Budi Darma.
  • Idrus menceritakan situasi trem dari Kota ke Harmoni dalam buku Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma.
  • Di negara lain : Pamuk dengan Istanbul, Kafka dengan Praha. Dostoevsky menulis tentang kota Saint Petersburg yang muram. –> menunjukkan perubahan yang terjadi atas sebuah kota.
  • Travel writing tidak harus dilakukan ketika pergi ke luar kota.
  • Menulis tidak harus dengan pikiran selalu fresh. Pram menulis tidak dalam kondisi fresh.
  • Setiap penulis punya penjaranya sendiri-sendiri. Kalau memang niat nulis, kita harus punya waktu untuk nulis. Selalu ada cara.
  • Sejarah tentang sebuah tempat jika tidak dituliskan maka akan hilang. Kita tidak harus menulis suatu tempat sejak sejarah awalnya.
  • Surat-surat Syahrir menjadi sumber primer tentang sejarah Digul dan Banda Neira.
  • Salah satu cara menghargai hidup kita adalah dengan menulis hidup kita untuk sejarah bagi anak cicit.
  • Hidup yang tidak direfleksikan tidak layak dijalani : Socrates.
  • Duka menjadi tertanggungkan dengan cerita : Hannah Arendt.
  • Ada buku yang hanya membahas Jalan Miguel. Setiap bab bercerita tentang orang yang tinggal di Jalan Miguel. Tulisannya hidup karena mengawinkan manusia dan tempat. Karakter tokohnya akan muncul ketika merespon permasalahan.
  • Tulisan yang menceritakan kota bisa abadi karena bercerita tentang manusia dan tempatnya. Diberi detail juga supaya ada dokumentasi sosial tentang tempat itu.
  • Persepsi kita tentang suatu tempat perlu kita tuliskan, sebagai bahan latihan menulis.
  • Latihan-latihan kecil itu penting. Harus repetitif, misalnya latihan nulis yang ringkas dan efektif, latihan cara mengutip yang variatif, latihan menulis kalimat pembuka yang bagus.
  • Penulis yang baik harus peka, termasuk pada hal yang dianggap remeh. Kepekaan bisa dilatih dari hal-hal yang sepele.
  • Yang paling menarik adalah menghayati sebuah momen –> memberi maknanya.
  • Menulis kota bisa jadi latihan untuk menulis sastra atau novel.
  • Belajar gaya bahasa bisa dengan cara menulis ulang cerpen. Harus latihan berkali-kali.
  • Kekurangan kosakata bisa berakibat pada tidak selesainya tulisan.
  • Seorang penulis harus banyak membaca supaya punya banyak kosakata. Bahasa Indonesia punya hampir 500 ribu kata.
  • Yang berbahaya dari rendahnya minat baca adalah meningkatnya keinginan berkomentar.
  • Kita sering gagal menautkan peristiwa dengan mood kita saat memandang peristiwa tersebut. Terlalu fokus pada peristiwanya.
  • Biasakan catat ide-ide kita di hp atau di notebook, lalu bisa dikembangkan jadi outline tulisan.
  • Outline tulisan membantu untuk menstrukturkan pikiran yang ruwet.
  • Outline penting saat ada kilatan ide tapi belum sempat menyelesaikan tulisan.

You Might Also Like

Leave a Reply