Nasi Liwet Rasa Cinta
Pulang ke Solo juga berarti pulang pada menu khas di pagi hari. Nasi liwet yang dipincuk. Nasi gurih plus sayur jepan, plus ayam yang disuwir-suwir, plus telur separuh, tambah areh, dan tentu saja, dimakan dengan sendok daun bernama suru. Suru adalah daun pisang kecil memanjang yang kemudian dilipat. Lebarnya paling hanya setara 2 jari tangan kita.
Penjual nasi liwet langganan kami adalah seorang ibu yang usianya hampir sama dengan eyang putri saya. Pagi-pagi ibu penjual nasi liwet itu sudah datang dengan baju jawanya yang bersahaja, memanggul bakul yang digendong di punggung dengan sebuah kain selendang. Tangan kirinya menenteng panci berisi sayur jepan.
Tiap pagi ibu itu membuka gerbang rumah kami lalu bertanya dengan bahasa Jawa yang begitu halus. “Ngersaaken sekul liwet mboten Bu?” (Ingin nasi liwet tidak Bu?). Dan Mama akan menjawab, “Inggih, nyuwun kalih nggih Bu..” (Iya, minta dua ya Bu..)
Berapa harga sepincuk nasi liwet yang dijual Ibu itu? 2500 rupiah! Nasi gurih, sayur jepan, ayam suwir, telur separuh, plus areh. 2500 rupiah! Ini saja sudah harga Lebaran, hari biasa harganya cuma 2000 rupiah!
Masih tidak habis pikir bagaimana harganya bisa semurah itu. Di Jogja saja harga nasi liwet sudah menyentuh angka 5000. Rasanya masih kalah enak dengan nasi liwet buatan si Ibu. Entah berapa, atau apa, keuntungan yang diperoleh si ibu dengan berjualan nasi liwet seharga 2000 atau 2500 itu. Sepadankah harga itu dengan biaya dan upaya yang dikeluarkannya untuk menghasilkan makanan khas Solo itu?
Bayangkan, beli beras, jepan, ayam, telur, lalu ongkos produksinya, lalu kelelahan yang dia rasakan saat berjalan subuh hari dari rumahnya dengan memanggul bakul. Sepadankah itu ?
Dulu pernah mencoba bertanya padanya, tidakkah dia rugi? Saat itu sengaja tidak bertanya berapa keuntungan yang dia peroleh karena mengganggap bisa impas saja sudah bagus! Lalu ibu itu bilang, “Mboten rugi kok Mbak..mendhet untungipun sekedhik kemawon..sampun cekap..”(Tidak rugi kok Mbak..ambil untungnya sedikit saja..sudah cukup..)
Jawaban itu persis dengan yang biasanya dikatakan Mama tiap saya bertanya kenapa kue-kue buatannya dijual dengan harga murah. “Ambil untung itu sedikit saja..mesakke sing tuku..sakcukupe wae..sakmadya…”
Sakmadya, kata saktinya orang Jawa.
Lantas, apa sebenarnya yang membuat 2 ibu itu bisa mencapai level “sakmadya”? Mungkinkah dilandasi keinginan mereka untuk berbagi ? Membagi cinta yang mereka rasakan saat melakukan sesuatu yang seolah sudah menjadi “food for the soul”, makanan bagi jiwa ? Sesuatu yang sangat kita cinta dan suka untuk mengerjakannya. Tak memikirkan lagi apakah itu memberi untung atau tidak bagi diri sendiri. Yang penting bisa melakukannya dengan penuh cinta, dan bisa membagikan cinta itu pada sesama.
Mungkin, si ibu itu sudah cukup merasa beruntung dengan senyum tulus para pelanggannya yang setia menyambut kedatangannya setiap pagi. Seperti halnya Mama yang selalu menyambut kedatangan pembeli kuenya dengan mata berbinar dan obrolan yang penuh kehangatan.
-15 Oktober 2007-
Leave a Reply