Stutz
“Mbak, udah nonton Stutz di netflix?” tanya seorang sahabat lewat wa ketika saya sedang ikut zoom meeting tadi siang. Saya jawab belum, tapi saya mulai penasaran karena rekomendasi darinya biasanya keren. Bertahun mengenalnya membuat saya mempercayai seleranya. Selesai rapat, saya mulai nonton, tapi belum selesai karena ketiduran.
Film ini menarik karena bercerita dari sudut pandang psikiater. Dia bercerita tentang hubungan kita dengan tubuh kita, dengan orang lain, dan dengan diri sendiri. Olahraga dan diet ternyata juga bagian dari self care dan upaya menjaga kesehatan mental. Mendorong kita untuk bergerak dan tak terjebak di tempat tidur karena depresi.
Refleksi untuk diri sendiri: harus berusaha menjaga kesehatan fisik dan mental, supaya baterai jiwa raga cukup untuk menggapai cintaNya, membahagiakan diri sendiri, membahagiakan orang-orang terdekat, melihat anak tumbuh dewasa, melayani negeri, serta memberi dampak baik bagi sesama.
Setelah seminggu terakhir berusaha mencuri waktu untuk tidur di antara berbagai kegiatan atau perjalanan, siang hingga sore tadi kembali merasakan tidur yang rileks setelah terkantuk-kantuk nonton Netflix sesudah rapat. Tidur 6-8 jam sehari memang tidak mudah terpenuhi, apalagi kalau sedang overthinking, tapi tetap harus dicoba. Olahraga, diet, dan jeda sejenak semoga bisa menghasilkan tidur yang nyenyak.
Kita memang melayani orang lain, tapi ada yang terdekat yang harus dilayani: diri kita sendiri.
Bismillah…![]()
![]()
Leave a Reply