Sigaraning Nyawa

Garwa. Sigaraning nyawa. Belahan jiwa. Ketika hati berkata “dialah orangnya”.

“Saya kenal Bapak pertama kali ya di gedung pusat itu. Saya kerja di perpustakaan, dan Bapak waktu itu sering ke sana pinjam buku untuk bahan mengajar.”

Kami duduk di ruang tamu yang penuh dengan hiasan dinding, memandang lukisan gedung pusat UGM yang tergantung indah di tembok. Lukisan itu dihadiahkan fakultas ekonomi UGM pada mereka yang pernah menjabat sebagai dekan di sana.

“Nah, perpustakaannya di sini…”, tangan beliau menunjuk salah satuĂ‚ sudut pada lukisan gedung pusat UGM.

Hmmm…di situ rupanya lokasi awal cinta bersemi. Di gedung pusat UGM di jalan kaliurang. Gedung indah dihiasi pilar-pilar menawan.

Entah sejak kapan, aku memperhatikan mereka. Sepasang suami istri yang telah berpuluh tahun berjalan beriringan, tapi tetap terlihat seperti orang pacaran. Bapak dan Ibu, begitu aku memanggil mereka. Padahal mungkin lebih tepat jika aku menyebut Eyang pada mereka berdua.

Rasanya baru kemarin mulai bekerja di kantor ini. Aku masih ingat, saat tes wawancara, Bapaklah yang mengajakku ngobrol sekedar mencairkan suasana. Walaupun sudah 71 tahun, semangat Bapak terhitung tinggi untuk orang seusia beliau, badan juga masih segar bugar. Mungkin semua itu karena selera humor Bapak yang memang “tinggi”.

Kata Bapak, ada cara untuk membuat otak tidak cepat pikun. Nyetir sendiri! Aku paling suka jika Bapak datang ke kantor naik “kereta kencana”. Mobil antik warna biru setir kiri. Kata Bapak, itu mobil jaman pacaran dengan Ibu. Kami sekantor sempat foto-foto besama mobil itu.

Tiap akan ke Jakarta untuk urusan kantor, Bapak dijemput pagi-pagi. Ketika Bapak naik ke mobil, Ibu setia mengantar sampai ke gerbang. Dan adegan favoritku pun dimulai. Ibu akan melambaikan tangan sambil berkata “Love you” atau “See you”, dan Bapak akan balas melambaikan tangan sambil mengucap kata yang sama.

Bapak dan Ibu memang masih seperti orang pacaran. Apalagi anak cucu beliau tinggal di kota lain. Jadilah rumah besar itu hanya dihuni Bapak Ibu dan pembantu. Kata Bapak, Ibu membunuh sepi di rumah dengan membaca buku. Tak terhitung jumlah buku yang telah dibaca Ibu. Danielle Steel penulis favoritnya. Satu buku karya Danielle Steel dipinjamkan Ibu padaku. “Baca ya, ini bisa melatih bahasa Inggris lho..”

Minggu lalu, kami sekantor menjenguk Ibu di Rumah Sakit. Bapak setia menemani Ibu. Ketika kami berada di sana, terlihat benar cinta di mata mereka. Rasa hangat juga terasa dalam setiap canda yang muncul sore itu.

Minggu depan, Ibu ke Singapura untuk berobat. Bapak tetap setia menemani Ibu. Di antara bertumpuk tugas tentang gempa, Bapak tak pernah lelah mendampingi Ibu.

Mendampingi belahan jiwa. Sigaraning nyawa.

You Might Also Like

Leave a Reply