Terlambat Panas

Pagi ini Fahri Salam membagi link lewat Facebook tentang novel pertama karya Ben Fountain. Nama Ben Fountain sendiri mulai saya kenal ketika membaca buku What the Dog Saw yang merupakan kumpulan tulisan nonfiksi karya Malcolm Gladwell. Dalam buku itu, Gladwell bercerita tentang Fountain dalam tulisan berjudul Terlambat Panas. Itulah tulisan yang paling saya suka dari Gladwell. Mengharukan, kuat dalam rincian, dan tidak membosankan walau dibaca berulang.

Lewat Terlambat Panas, Gladwell berupaya menjawab pertanyaan tentang mengapa kita mengaitkan kejeniusan dengan kecepatan berkarya. Untuk menjawab pertanyaan itu, Gladwell membuat dua perbandingan, yaitu antara Pablo Picasso dengan Paul Cezanne, serta antara Jonathan Safran Foer dengan Ben Fountain. Picasso dan Cezanne adalah pelukis, sedangkan Jonathan Safran Foer dan Ben Fountain adalah penulis.

Picasso dan Jonathan Safran Foer adalah mereka yang dianggap jenius karena menghasilkan karya cemerlang dalam usia muda. Sedangkan Cezanne dan Fountain mewakili golongan yang disebut Gladwell sebagai “Terlambat Panas” atau “Late Bloomers”.

Berkebalikan dengan jenius yang cepat meroket, kaum terlambat panas menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk berlatih sebelum menghasilkan karya yang bagus. Tahun 1988 Fountain meninggalkan pekerjaannya sebagai pengacara untuk banting stir menjadi penulis. Dia perlu 18 tahun latihan sebelum melahirkan kumpulan cerpen berjudul Brief Encounters with Che Guevara pada tahun 2006, yang kemudian mendapatkan tanggapan bagus dari berbagai pihak. Mengutip kata Gladwell, “Sang penulis “muda” baru mengguncang dunia kesusastraan pada umur empat puluh delapan.”

Kisah Fountain tak mudah dilupakan. Ada perjalanan panjang yang harus dia tempuh untuk mewujudkan mimpi. Ada pula keteguhan orang dekat yang terus memberi dukungan. Selama 18 tahun masa latihan Fountain, istrinya mengambil peran sebagai pencari nafkah bagi keluarga.

Yang paling utama, Fountain tahu apa yang dia inginkan, dan dia mau memperjuangkannya. Belajar dari semangat Fountain, saya jadi ingin bertanya pada Gladwell satu hal saja. Kapankah kita tahu bahwa kita ‘terlambat panas’, dan bukan ‘tak bisa panas’?

You Might Also Like

Leave a Reply