Ketika Kurir Menjejal Jakarta

Dua hari lalu baca tulisan yang keren sekaligus membuat miris, tentang seorang wartawan yang mencoba menjadi kurir paket selama dua minggu. Saya terpesona kepada kegigihan wartawan itu untuk mencoba mengerti kehidupan para kurir, dan hasilnya adalah tulisan yang mengetuk nurani pembacanya.

Gara-gara tulisan itu, saya jadi googling tentang Project Multatuli. Mengutip Kompas, “Project Multatuli menganut prinsip slow journalism, sebagai lawan jurnalisme yang serba cepat, instan, tanpa detail penjelasan ataupun reportase yang cukup, dan berhubung buru-buru, apa yang disampaikan sering salah juga. Dengan pendekatan slow journalism, Project Multatuli berharap bisa menawarkan kedalaman dalam liputannya. Persis inilah jurnalisme yang diharapkan saat ini.”

Sebagai pembaca, rasanya mendapat kemewahan ketika bisa membaca tulisan bagus dan mendalam. Bacanya tidak bisa buru-buru juga karena memang di situlah letak kenikmatannya. Perlu upaya untuk mencoba mencerna makna.

Ketika membaca nama wartawan yang menulis kisah kurir itu, sepertinya kok saya pernah baca namanya entah di mana. Lalu saya ingat, dia juga menulis buku Menjejal Jakarta. Saya punya buku itu, buku bagus, tapi lupa saya taruh di mana. Mungkin ada di laci kantor, mungkin juga sudah saya hibahkan ke teman.

Menjejal Jakarta berisi dua puluh empat naskah tentang Jakarta. Tulisan tentang JKT48, Eros Djarot, Kineforum, dan pemakaman San Diego Hills memberi tahu saya bahwa JKT48 punya fans yang setia dan rela berjuang demi bertemu idolanya, bahwa Eros Djarot menciptakan lagu-lagu bagus dalam album soundtrack Badai Pasti Berlalu ketika baru berusia 27 tahun, bahwa Kineforum itu menggoda untuk didatangi, dan bahwa urusan pemakaman itu ternyata tak sesederhana yang saya kira. Semua hal-hal baru itu membuat tulisan-tulisan itu menjadi favorit saya.

Khusus untuk tulisan berjudul Menjejal Transjakarta, saya tak tahu harus berkomentar apa. Tulisan tentang pengguna Transjakarta dan kereta commuter line itu terlalu dekat dengan pengalaman saya sehari-hari (sebelum pandemi). Mirip-miriplah dengan orang-orang Tokyo saat naik kereta bawah tanah. Berdesakan dan tergencet di dalam kereta menjadi salah satu bentuk penderitaan kaum urban.

Sebelum pindah ke Jakarta, hal yang paling saya ingat dari cerita-cerita tentang Jakarta adalah kompetisinya yang keras dan biaya hidupnya yang lebih mahal dibandingkan kota-kota yang lebih dulu saya kenal. Dua hal itu memang benar, tapi harus saya akui bahwa Jakarta dan kota satelit di sekitarnya tidak hanya mengajarkan kompetisi tetapi juga empati.

Di antara kerasnya persaingan menggunakan transportasi umum, terutama kereta, terselip kebaikan-kebaikan yang tak terduga. Ketika saya pingsan di kereta, ada yang sigap menolong tanpa diminta. Dan ketika suatu sore tiba-tiba gerimis turun di ujung peron Stasiun Cikini yang tak beratap, di atas kepala saya tiba-tiba ada payung yang muncul entah dari mana. Ketika saya menoleh ke belakang, saya melihat payung itu dipegang seorang perempuan bercadar.

Matanya tersenyum hangat kepada saya.

You Might Also Like

Leave a Reply