Bukan Pasarmalam
Berita yang kemarin diterima mengingatkan pada sebuah catatan lama tentang orang tua, anak, dan jarak yang terentang di antara mereka. -Agustus 2021-
*
Dari sedikit buku karya Pram yang sudah saya baca, Bukan Pasarmalam adalah yang paling saya suka. Ketika membaca buku itu bertahun-tahun lalu, saya merasa begitu dekat dengan tokohnya. Merasa bahwa suatu saat saya pun bisa mengalami hal yang sama, dan ternyata benar. Pada suatu dini hari sebuah kabar datang dari kota kelahiran, lalu saya bergegas pulang ditemani kekhawatiran.
Bacalah tulisan Kalis Mardiasih di Mojok, maka mungkin rasa nelangsa yang dialami perantau seperti saya akan lebih mudah untuk dipahami. Tulisan Mbak Kalis diawali dengan Bukan Pasarmalam, lalu kisah tentang hubungan anak dan orang tua, dan diakhiri dengan doa untuk orang tua yang membuat saya berharap punya Pintu Ke Mana Saja sehingga bisa pulang ke Solo kapan saja.
Bagi saya, Bukan Pasarmalam adalah juga pengingat tentang pentingnya mempersiapkan dana darurat. Kata “dana darurat†pertama kali saya kenal dari buku Untuk Indonesia yang Kuat karya Ligwina Hananto. Punya dana darurat sesuai panduan di halaman 114 buku tersebut ternyata tak mudah dilakukan di antara gempuran berbagai cicilan yang membuat kewalahan.
Memang tak banyak pilihan, sayangnya mau tak mau harus diperjuangkan.
-11.03.2018-
Leave a Reply