Gondangdia

Sore ini saya kembali melakukan hal yang telah agak lama saya tinggalkan. Berjalan kaki dari kantor ke stasiun Gondangdia. Kata kawan saya, “Itu jauh sekali!”, tapi bagi saya itu seperti judul lagu dangdut, sedang-sedang saja. Bukankah jauh dan dekat itu relatif. Yang terlihat jauh belum tentu sejauh yang kita bayangkan, dan yang dekat justru bisa jadi jaraknya tak terhingga. Tak kasat mata.

Lima belas hingga dua puluh menit jalan kaki menuju Gondangdia adalah waktu untuk berbincang dengan diri sendiri, ditemani lembutnya lagu-lagu Kings of Convenience, Jubing Kristianto, dan Coldplay. Tadi sore langit sangat cerah, ditingkahi angin yang hembusannya menyegarkan.

Saat menyeberang dari kantor lalu melewati Taman Suropati, saya mencuri pandang pada orang-orang yang bercengkrama di sana. Berdasarkan pengamatan saya setelah beberapa kali melewati Taman Suropati, tiap orang punya gaya yang berbeda. Ada yang duduknya dipisahkan dua buah teh botol sambil ngobrol serius, ada yang tertawa-tawa sambil lengannya mendekap erat pinggang teman bicaranya, ada pula yang senang mengelus (atau mengacak-acak) rambut kawannya. Mereka punya gaya. Mereka ada.

Setelah melewati rumah dinas Pak Jokowi, saya berbelok ke kanan. Tinggal lurus saja ikuti jalan maka akan tiba di Gondangdia. Itulah ruas jalan favorit saya. Trotoarnya lebar, pohon-pohonnya besar. Rindang. Jangan tanyakan rumah-rumah di kiri kanan. Sudah pasti rumah besar. Beberapa diantaranya dihiasi halaman yang lebar.

Di kawasan Menteng, kota Jakarta adalah tempat yang indah dan menenangkan. Lalu lalang kendaraan tak bisa menepis romantisnya daun-daun kering yang bertebaran di trotoar. Saat lampu jalan mulai menyala menjelang senja, saat itu pula pendarnya mengingatkan saya pada lampu-lampu Graha Sabha Pramana di Jalan Kaliurang Jogja. Betapa tajam kenangan. Dari hal-hal kecil ia memperoleh kekuatan.

Mendekati stasiun Gondangdia, saya berhenti sejenak di depan sebuah bangunan bagus di pojok kanan jalan. Saya kerap memperhatikannya. Bangunan yang indah. Renovasinya pasti tak murah. Pikiran tentang biaya renovasi itu membuat saya tak berani masuk ke dalamnya walau dari luar terlihat ada semacam kafe kecil yang menggoda. Saya takut gaji saya tak cukup untuk secangkir teh atau kopinya, tapi saya ingin mencoba. Saya ingin bisa merasakan, tapi hati saya berdebar membayangkan konsekuensinya. Sejenak saya menimbang, lalu memutuskan melanjutkan perjalanan. 

Di depan bangunan indah itu, di pojokan sebelum saya menyeberang ke arah stasiun Gondangdia, senja menjelma siluet lewat mata kamera.

– 8 Juli 2013, 20.52 WIB –

You Might Also Like

Leave a Reply