Pursuit of Happyness

Pursuit of happyness. Happyness? Ya, happyness. Bukan happiness. Film ini dibintangi oleh Will Smith. Bercerita tentang ayah dan anak lelakinya yang berjuang untuk bertahan diantara kerasnya hidup. Thomas Jefferson menyebutkan pursuit of happiness sebanyak dua kali dalam deklarasi kemerdekaan Amerika. Kebahagiaan itu harus diupayakan, diperjuangkan. Itu artinya, ada ukuran yang dipakai untuk mendefinisikan “kebahagiaan”.

Dalam kasus sang tokoh utama, kebahagiaan adalah saat dia diterima bekerja setelah melewati proses magang dan mengalahkan puluhan pesaing yang hebat. Kebahagiaan adalah saat dia bisa memiliki penghasilan tetap, bisa makan layak. Kebahagiaan adalah saat dia tidak perlu menahan tangis karena harus bermalam di toilet stasiun kereta bersama anak lelakinya. Mereka begitu miskin sampai tak mampu menyewa flat lagi.

Setiap orang bebas menentukan ukuran kebahagiaannya. Ada yang begitu tinggi dan spesifik, ada pula yang standar-standar saja. Ukuran itu kemudian membuat orang berjuang untuk memenuhinya.

Perjuangan mewujudkan bahagia itu ada yang begitu keras, sampai lupa merasakan kedamaian di hidupnya. Itulah kenapa Gede Prama di Kompas Sabtu 2 Februari 2008 mengingatkan tentang “Damai dalam Setiap Langkah”. Damai bisa kita rasakan saat kita mau memeluk masa kini. Tak tergoda menjadi Nyoman yang buru-buru ingin ke masa depan, merasakan keberhasilan, dan lupa menikmati keindahan masa kini.

Perdamaian dengan masa kini, perdamaian dengan masa lalu. Setiap orang memiliki buku hidupnya. Cerita datang dan pergi silih berganti. Masa lalu sudah lewat, masa depan belum datang. Kita cuma punya masa kini untuk diisi sebaik-baiknya.

Gede Prama menulis, kebahagiaan dapat dirasakan dalam setiap langkah yang justru kita anggap sebagai proses menuju “bahagia” itu. Seperti halnya “perdamaian” yang sebenarnya hanya bisa dicapai dengan cara yang damai pula. Tak ada perang yang menimbulkan kedamaian. Tak ada.

“Pursuit of Happyness” adalah pelecut semangat juang untuk mewujudkan kebahagiaan, sedangkan tulisan Gede Prama adalah pengingat untuk menikmati setiap proses perjuangan itu. Saat bisa menikmati prosesnya, barangkali kebahagiaan dan kedamaian itu sudah terasakan.

You Might Also Like

Leave a Reply