Menanti Lintang, Menanti Pria Cemara Angin

Dari semua kehebohan tentang film Laskar Pelangi, Lintang adalah tokoh yang paling saya tunggu kemunculannya. Saya menyukai kepintarannya. Saya menyukai kerja kerasnya. Demi pergi ke sekolah, dia rela naik sepeda berkilo-kilo meter jauhnya. Sekali waktu, dia terlambat datang ke sekolah gara-gara harus menunggu buaya yang lewat di jalan dekat rawa.

Dari semua hal tentang Lintang, putus sekolah adalah bagian yang paling tidak bisa saya terima. Anak sepintar itu dipaksa menyerah pada nasib, tapi memang banyak anak kecil bernasib mirip Lintang. Kemarin saya baca artikel di Kompas tentang anak-anak yang terpental dari bangku sekolah dengan alasan biaya. Macam-macam biaya. Beli buku, beli seragam, beli sepatu, dan lain sebagainya. Demi alasan biaya pula, banyak anak kecil yang terpaksa sekolah sambil bekerja.

Kesedihan tentang nasib Lintang makin terasa ketika Andrea Hirata menggambarkan tentang ayah Lintang. “Pria Cemara Angin”, kalau tidak salah itulah kalimat yang dipakai Andreas Hirata untuk menyebut ayah Lintang. Dialah ayah yang senang punya anak pintar sekaligus ayah yang sedih karena memikirkan anaknya terancam tak bisa melanjutkan sekolah.

You Might Also Like

Leave a Reply