Perjalanan Besar
Pergi haji adalah sebuah perjalanan besar. Besar biayanya, besar persiapannya, besar kesabarannya, besar pula pelajarannya. Kompas hari Kamis 6 November 2008 menyebutnya sebagai “bukan perjalanan biasa”. Inilah ibadah yang untuk bisa melaksanakannya perlu perjuangan besar. Bertahun-tahun menabung (bisa juga menjual tanah atau sawah), dibumbui rebutan kuota, dipermanis pula dengan kesabaran luar biasa.
Cuaca dingin, pemondokan jauh, dan faktor usia jemaah. Itulah yang disorot dalam artikel Kompas. Artikel itu juga yang membuat saya jadi ingat kalimat Ibu saya, “Sebelum mati, aku ingin ibadah haji.” Yang langsung terlintas di kepala saya adalah bagaimana jika ibu saya nanti kebingungan di sana. Bagaimana pula bila ibu saya lapar tapi jatah makan terlambat diberikan seperti yang terjadi beberapa tahun lalu? Lantas bagaimana jika ibu saya kelelahan berjalan, padahal kakinya sering kram jika lelah tak tertahan. Siapa yang akan mengoleskan Counterpain atau balsam di betisnya…
Datangnya musim haji menyegarkan lagi kekaguman saya pada film Le Grand Voyage, film tak terlupakan tentang perjalanan naik haji yang dilakukan seorang ayah yang minta diantar anak lelakinya, lewat jalan darat. Melewati kota demi kota, mengandalkan peta.
Perjalanan itu menjadi “besar” karena jembatan pengertian di antara dua generasi ini coba dibangun. Konflik demi konfliknya terasa menggugah, tentu saja tanpa melupakan cinta ayah pada anaknya. Sedangkan cinta sang anak pada ayahnya terasa pilu karena kental dengan rasa sesal saat dia menemukan ayahnya sudah tak bernyawa di tengah ibadah hajinya.
Yang saya tahu, semua yang pergi menunaikan ibadah haji tentu punya harapan yang indah. Menjadi haji yang mabrur. Sedangkan untuk keluarga di kampung halaman, harapan itu ditambah satu doa besar tentang keselamatan. Mereka tahu benar, melepas anggota keluarga yang hendak pergi haji butuh keikhlasan, karena belum tentu yang pergi akan kembali pulang.
Leave a Reply