Belajar dari Leila S. Chudori

Mbak Leila S Chudori adalah penulis sekaligus wartawan majalah Tempo yang telah menghasilkan dua kumpulan cerpen, Malam Terakhir dan 9 dari Nadira, serta satu novel berjudul Pulang. Novel Pulang, kisah tentang eksil yang merindukan Indonesia, memenangkan Khatulistiwa Literary Award tahun 2013.
 
Saya suka tulisan-tulisan Mbak Leila, baik karya sastranya maupun review filmnya di majalah Tempo. Review filmnya berbeda dengan review film di media lainnya. Saya sulit menjelaskan bedanya di mana, tapi saya merasa reviewnya dalam dan tak berhenti pada hal-hal di permukaan seperti alur cerita dan kualitas akting pemainnya. Silakan membaca review film karya Mbak Leila lewat tautan ini http://www.leilaschudori.com/category/resensi-film/
 
Dari sesi sharing tadi siang, ada beberapa pelajaran yang saya dapatkan dari Mbak Leila, yaitu :
 
1. Kecenderungan karya Mbak Leila adalah character driven. Karakterlah yang menentukan plot. Plot berubah karena karakter. Oleh karena itu, hal pertama yang harus digarap sebelum menulis adalah menentukan latar belakang karakter, termasuk hal-hal yang terdengar sepele tentang karakter tersebut. Contoh : lahir kapan, apa saja kebiasaannya, apa pandangan politiknya, buku apa yang senang dia baca, keluarganya seperti apa, dll.
 
Intinya : karakter harus kuat. Oleh karena itu, Mbak Leila merasa tidak bisa menulis karakter yang tidak dia kenal, misalnya menulis tentang orang yang uneducated. Jika tetap menulis orang yang uneducated, hasilnya kurang baik karena karakter menjadi terkesan dipaksakan.
 
Saat hendak membuat karakter, berpikirlah seperti ini : ketika sebuah peristiwa terjadi, karakter/tokoh cerita sedang apa? Apa yang dia rasakan? Hal-hal inilah yang harus diolah karena sangat manusiawi. Supaya cerita bisa hidup, kata Mbak Leila, “It has to start from people”. Misalnya : pada saat terjadi peristiwa G30/S, ada beberapa warga indonesia yang dianggap terkait PKI yang sedang mengikuti konferensi di luar negeri. Peristiwa G30/S membuat mereka tak bisa pulang ke Indonesia karena paspor mereka dicabut. Kisah tentang orang-orang yang tak bisa pulang ke Indonesia, lengkap dengan segala kerinduan mereka, adalah kisah yang sangat manusiawi.
 
2. Urutan kerja Mbak Leila saat akan menulis adalah sebagai berikut :
 
a) Melakukan riset tentang kisah yang ingin ditulis. Sebelum menulis novel Pulang, Mbak Leila melakukan riset cukup lama tentang kehidupan para eksil di Perancis dan tahanan politik yang dulu ditahan di pulau Buru. Mbak Leila juga melakukan wawancara dengan banyak pihak, misalnya Pramoedya Ananta Toer, Amarzan Loebis, dan Oemar Said. Oemar Said adalah salah satu eksil di Perancis yang membuka rumah makan masakan Indonesia di sana.
 
b) Mencatat hal-hal kecil yang ditemui dalam hidup sehari-hari. Hal-hal kecil ini bisa jadi bumbu di dalam cerita. Misalnya : kebiasaan tukang becak di Solo (dulu) yang jika akan menyeberang hanya perlu mengacungkan jari salah satu tangannya lalu semua orang akan memberi jalan. Saya terpesona pada bagian ini di novel Pulang karena memang seperti itulah ingatan saya tentang tukang becak di Solo dulu. Kerajinan Mbak Leila untuk mencatat hal-hal kecil sungguh patut mendapat apresiasi. Dari cerita Mbak Leila, saya juga jadi tahu bahwa Solo adalah kota di pulau Jawa yang paling disukai Mbak Leila, itu sebabnya Mbak Leila tidak mengalami kesulitan memasukkan informasi tentang kota Solo ke dalam ceritanya.
 
c) Menentukan karakter (The Who). Buat family trees karakter-karakter dalam cerita. Family trees penting untuk menjaga agar tulisan kita konsisten, apalagi jika ada banyak karakter bahkan sampai dua generasi seperti dalam novel Pulang. Karakter utama dalam Pulang adalah Dimas Suryo dan anak perempuannya, Lintang Utara. Tokoh-tokoh lain dalam novel ini adalah karakter pendukung yang alur kisahnya berkaitan dengan Dimas Suryo dan Lintang Utara.
 
d) Menentukan tempat/lokasi cerita. Deskripsi tentang tempat bisa menggunakan berbagai elemen, misalnya aroma, makanan khas, dll.
 
e) Membuat outline cerita
 
f) Mulai menulis
 
3. Membaca buku dan nonton film sangat bagus untuk membantu kita masuk/menyelami dunia yang berbeda dan belajar membuat plot yang tidak klise/tidak mainstream. Selain itu, kedua hal itu juga bisa menjadi terapi dalam hidup. 
 
– 10.08.2014, 22.31 WIB –

You Might Also Like

Leave a Reply