Aceh
Langit biru, kopi Sanger, tsunami, dan sapi atau kerbau yang sering menyeberang jalan adalah beberapa hal yang membekas di ingatan seusai kedatangan saya dan dua orang teman ke Aceh pada akhir Juni lalu. Memang tak banyak yang bisa dikunjungi dalam 3 hari, apalagi tujuan utama kami ke sana adalah untuk bekerja. Jalan-jalan dan memotret menjadi aktivitas sampingan yang tak mudah.

Syukurlah Pak Rudi dari BPS Aceh berkenan mengantar kami berjalan-jalan pada sebuah sore di hari pertama kami tiba di Aceh. Sambil menyetir, Pak Rudi bertutur banyak hal. Nada bicaranya datar saat bercerita tentang puluhan anggota keluarga besarnya yang meninggal karena tsunami. Entah jika dalam hatinya bergetar. Sambil bercerita, diarahkannya mobil melintasi Masjid Raya Baiturrahman Aceh yang terkenal itu.

Pak Rudi menawarkan untuk berhenti jika ingin memotret, saya jawab tak perlu. Saya menghargai tawarannya, namun memotret dari dalam mobil terasa sudah cukup. Bukan karena sok bisa, tapi supaya tak terlalu merepotkan Pak Rudi dan mengambil lebih banyak waktunya.
Mobil kemudian bergerak menjauhi masjid dan menuju pantai Lhok Nga. Rumah-rumah yang dibangun pascatsunami berderet di kanan kiri jalan yang kami lewati. Fasih Pak Rudi bercerita tentang dari mana saja rumah-rumah itu berasal. Lebih tepatnya, tentang uang siapa atau negara mana yang dipakai untuk membangun rumah-rumah tersebut. Pak Rudi bisa menyebutkan dengan pasti si pemberi bantuan berdasarkan ciri khusus pada rumah yang dibangun. Brunei Darussalam menyukai rumah panggung, sedangkan Turki menempatkan gambar bulan sabit di bagian kanopi rumah. Sayangnya saya lupa bertanya apa ciri khusus pada rumah bantuan dari Jacky Chan.
Ketika berada di dalam mobil menuju pantai Lhok Nga, saya baru sadar betapa dekatnya tempat kami dengan laut yang terlihat di seberang sana. Di beberapa tempat, Pak Rudi menunjukkan bekas tsunami yang meninggalkan jejak berupa gerusan pada beberapa bukit di kiri jalan. Menggetarkan. Kita memang tak pernah tahu apa rencana Tuhan, apalagi di sisi lain terbentang pantai Lhok Nga yang indah ditimpa sinar matahari sore. Aceh memberi kemewahan untuk menikmati sore lebih leluasa karena malam datang lebih lambat. Padahal ia sama seperti Jakarta, berada pada Waktu Indonesia Barat.

Seusai jalan-jalan, kami kembali ke hotel The Pade, dan tak lupa berucap terimakasih kepada Pak Rudi atas waktu yang diluangkannya.
Hari kedua di Aceh tak akan saya lupa. Akhirnya saya merasakan kopi Aceh! Kopi Sanger di kedai kopi Solong sukses membuat saya berulang kali menghela nafas panjang. Alhamdulillah, nikmat sekali. Kenikmatan itu masih ditambah dengan keramahan penjaga kedai kopi yang tak segan berbagi cerita tentang cara pembuatan kopi Aceh. Dialah yang memilihkan Kopi Sanger untuk kami dengan jaminan bahwa “Kopi ini enak sekali!”. Jaminannya terbukti.


Hari ketiga, kami harus pergi. Tiga hari di Aceh adalah tiga hari yang istimewa karena memaksa saya kembali merenung tentang betapa kecilnya saya dibandingkan alam semesta. Renungan itu berlanjut di pesawat, dan terasa makin dalam ketika menekuni sebuah buku yang akhir-akhir ini jadi teman perjalanan setia gara-gara tak tuntas-tuntas jua saya membacanya.
Leave a Reply