Seperti Mendengar Kings of Convenience Bernyanyi
Judul : Seekor Anjing Mati di Bala Murghab
Penulis : Linda Christanty
Tebal : 131 hlm
Terbit : Cetakan pertama, Juni 2012
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
***
Makam Keempat. Cerpen yang terletak paling akhir dalam buku Kuda Terbang Maria Pinto karya Linda Christanty itu tak bisa saya lupakan sampai kini, dua tahun sejak pertama kali saya menemukan buku itu di salah satu sudut pameran buku di Jakarta. Kisahnya yang berlapis-lapis tanpa kesan bertele-tele telah membuat saya terpesona.
6 Juni 2012, saya membeli buku terbaru karya Linda Christanty, sebuah kumpulan cerpen berjudul Seekor Anjing Mati di Bala Murghab. Sejak Linda mengumumkan lewat akun Twitter dan Facebook tentang tanggal terbit buku itu, saya telah memberikan lingkaran merah pada kalender di ingatan saya. Tak sulit, apalagi tanggalnya sama dengan ulang tahun saya. Nyatanya baru seminggu sesudahnya saya sempat ke toko buku untuk membelinya.
Malamnya saya mulai membaca, tapi mata hanya sanggup bertahan sampai dua cerita pertama, Ketika Makan Kepiting dan Zakaria. Esoknya, ketika perjalanan KRL Bogor-Jakarta kacau balau, saya tuntas membaca sepuluh kisah dalam buku itu selama hampir tiga jam ketika terjebak di dalam kereta.
Membaca tulisan Linda di buku ini membuat saya merasa seperti sedang mendengar lagu-lagu milik Kings of Convenience. Tak mengumbar nada tinggi, tapi sering menggali kenangan begitu dalam. Melakukan inventarisasi apa saja yang ada di sana, lalu menjadikannya cerita. Terasa halus tapi terus menempel di ingatan.
Cerpen Perpisahan adalah contohnya. Linda menghadirkan perih tokoh Aku secara diam-diam, lewat lintasan ingatan tokoh Hans yang mengenang masa menjelang ibunya meninggal. Ibu Hans sudah tahu perpisahan pasti terjadi, dan dia memilih “sengaja menjauh dari siapa pun yang mengenalnya, yang pernah mesra. Sengaja mencipta jarak yang kelak akan terus memanjang ketika perpisahan itu benar-benar datang.” (halaman 59). Pada bagian itulah saya terhenti sejenak. Bukankah kadang kita pun seperti itu ? Merentang jarak supaya tak kaget dan limbung ketika perpisahan itu tiba di depan mata.
Beberapa cerpen lain yang juga istimewa adalah Seekor Anjing Mati di Bala Murghab, Karunia dari Laut, Ketika Makan Kepiting, dan Sihir Musim Dingin. Seekor Anjing Mati di Bala Murghab adalah cara pandang Linda atas Afghanistan. Seekor anjing ditembak tentara, lalu dari situlah Linda merangkai kisahnya tentang pergolakan di Afghanistan, dan tentang berbagai alasan mengapa banyak orang terjebak atau terpaksa datang ke sana. Sedangkan lewat cerita Ketika Makan Kepiting, Linda menunjukkan bahwa kenangan masa kecil tak boleh diabaikan, bahkan jika kenangan itu tentang perjuangan untuk menikmati makanan kesukaan.
Seperti layaknya album musik, buku ini juga berwarna. Ada cerita yang istimewa, ada pula yang membuat kening berkerut karena saya bingung apa maksudnya, contohnya pada cerita Pertemuan Atlantik dan Catatan tentang Luta; Manusia yang Hidup Abadi.
Meskipun demikian, secara keseluruhan buku ini enak dibaca dan layak dikoleksi. Saya tidak akan heran seandainya buku ini mengantarkan Linda Christanty mendapatkan Khatulistiwa Literary Award untuk ketiga kalinya.
-Depok, 8 Juni 2012. 03.00-05.00 WIB-
Leave a Reply