Umar Kayam Luar Dalam
Perkenalan saya dengan karya Pak Kayam bisa dibilang terlambat. Saya baru menemukan buku-buku karya Pak Kayam dalam jumlah agak banyak ketika sudah pindah ke Jakarta pada tahun 2009. Sebelum tinggal di Jakarta, saya hanya menemukan satu buku karya Pak Kayam di Solo, yaitu Seribu Kunang-Kunang di Manhattan yang saya beli di kios buku bekas di belakang Stadion Sriwedari. Buku itu memang kumpulan cerpen, tapi sebenarnya berisi terjemahan cerpen Seribu Kunang-Kunang di Manhattan dalam berbagai bahasa daerah.
Di Jakarta, buku-buku Pak Kayam saya temukan di Toko Buku TIM, Gramedia, TM Book Store, pameran buku, dan toko buku online. Perlahan tapi pasti, buku-buku Pak Kayam yang ada di rak buku saya bertambah. Tidak hanya novel dan kumpulan cerpen, tapi juga kumpulan tulisannya di koran Kedaulatan Rakyat dan kumpulan esainya tentang berbagai isu.
Sekitar seminggu lalu, saya menemukan buku Semangat Indonesia : Suatu Perjalanan Budaya karya Pak Kayam dan dua buku tentang Pak Kayam di Tokopedia. Itu penemuan yang tak diduga, tapi langsung bisa diperkirakan apa hasil akhirnya. Transaksi, tentu saja.
Salah satu buku itu berjudul Umar Kayam Luar Dalam, berisi kumpulan tulisan tentang Pak Kayam dalam berbagai hal. Buku ini istimewa karena memberikan banyak informasi berharga, misalnya apa pendapat Pak Kayam yang kemudian dia tuangkan dalam cerpen atau novelnya, dan mengapa dia dicopot dari jabatannya sebagai Dirjen Radio Televisi dan Film ketika baru bertugas sekitar tiga tahun. Buku ini membuat saya jadi merenung mengapa saya merasa nyaman dan tak bosan mengulang membaca karya Pak Kayam.
Ternyata saya tak tahu pasti apa alasannya. Mungkin karena tokoh-tokoh dalam cerpennya begitu kuat karakternya, mungkin karena kisahnya terjalin rapi dan akhir ceritanya sering tak terduga, mungkin karena suasana yang diciptakan oleh pilihan katanya sering bikin saya ngelangut, mungkin juga karena tulisan-tulisannya kental dengan nuansa Jawa, khususnya Solo dan Jogja. Sedikit banyak tulisan Pak Kayam menjadi semacam pupuk yang menjaga mimpi saya untuk pulang tetap ada.
-22 Juli 2018-
Leave a Reply