To Kill a Mockingbird
Atticus Finch adalah ayah yang hebat. Bayangkan, dia bisa membuat dua anaknya yang masih kecil memahami bahwa prasangka sering membuat manusia gelap mata, dan tidaklah benar membeda-bedakan seseorang berdasarkan latar belakang mereka. Atticus membuktikannya dengan kesediaannya menjadi pengacara seorang kulit hitam yang dituduh melakukan pemerkosaan. Pilihan Atticus itu bukanlah hal yang mudah karena mendatangkan kecaman dari berbagai pihak. Kecaman itu juga dirasakan oleh dua anak Atticus, Jem dan Scout Finch.
Novel ini mengalir lancar lewat sudut pandang Scout Finch. Seorang gadis kecil yang bersama dengan kakaknya, Jem, dibesarkan oleh Atticus tanpa kehadiran seorang Ibu. Untunglah ada Calpurnia, seorang pengurus rumah tangga berkulit hitam yang membantu Atticus mengurus anak-anaknya.
Saya menikmati percakapan-percakapan yang terjadi antara Atticus dengan Jem dan Scout. Harper Lee bisa membuat saya merasakan hangatnya hubungan Atticus dan anak-anaknya lewat dialog-dialog cerdas tentang hukum maupun tentang pentingnya menghormati pilihan setiap orang atas caranya menjalani kehidupan. Misalnya, tentang pilihan seorang tetangga bernama Boo Radley yang tak pernah keluar rumah selama bertahun-tahun.
Prasangka Jem dan Scout terhadap Boo Radley yang mereka anggap aneh, ternyata mendapatkan pembalasan yang manis ketika Boo justru menyelamatkan nyawa Jem dan Scout dari serangan orang yang membenci Atticus.
Pesan moral buku ini mungkin terasa klise, tapi Harper Lee membuatnya tak lekang dimakan zaman. Dan buku ini menempatkannya di halaman paling depan, bahkan sebelum halaman judul. Begini bunyinya,
Kau tidak akan pernah bisa memahami seseorang hingga kau melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya..hingga kau menyusup ke balik kulitnya dan menjalani hidup dengan caranya.
Leave a Reply